|
B
|
aru lulus kuliah langsung kerja ! mungkin impian semua orang ataupun harapan
orang tua kepada anaknya. Tetapi sayangnya, tidak semua orang seberuntung itu. Jika
saat ini anda adalah seorang jobseeker
atau pencari kerja yang seringkali gagal dalam menghadapi tes kerja, janganlah
berkecil hati, ”anda tidak sendirian” ribuan bahkan mungkin jutaan orang pernah
mengalaminya, termasuk saya (gagal, bangga; gue banget). Berita baiknya, tidak
sedikit dari mereka-mereka itu, akhirnya mendapatkan pekerjaan yang mereka
cari, meskipun tidak semuanya merupakan pekerjaan impian mereka. Ya, apapun
pekerjaan yang diperoleh, patut untuk kita syukuri, karena di luar sana masih
banyak orang berpendidikan tanpa pekerjaan. Namun, berita buruk bagi anda yang
belum mendapatkan pekerjaan atau bagi anda yang baru lulus dan sedang giat
mencari kerja. Apa itu?? Tenang, jangan keburu pingsan dulu, nanti gak
kelar-kelar baca buku ini. Dan bagi anda yang punya hobi jadi sukarelawan napas
bantuan, maaf ini bukan saatnya, hemat oksigen anda.
”Welcome to The Jungle” itulah
slogan yang akan kita pakai untuk membuka acara yang sebenarnya lebih mirip
arisan ibu-ibu ini. Ya, ”The Jungle”
atau rimba belantara, memang istilah yang paling mendekati dan paling sering
digunakan untuk menggambarkan ketatnya persaingan dalam dunia kerja. Dalam
setiap bursa kerja, akan selalu ada pihak yang hanya jadi penggembira, yaitu
mereka-mereka yang hanya bermodalkan semangat dan kemampuan seadanya serta
selalu berharap agar kali ini keberuntungan ada di pihak mereka. Sedangkan,
kelompok lain adalah kaum minoritas, yang mempersiapkan segala sesuatunya
secara matang dan tak ingin mengulangi kesalahan yang sama dan mereka itulah,
pihak pemenang.
Hidup dengan gelar kesarjanaan memang tidak gampang, karena mau tidak mau,
suka atau tidak, kita mesti dihadapkan pada harapan-harapan besar dari
orang-orang di sekitar kita. Padahal, saat ini kita tidak punya banyak pilihan.
Bacalah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini dan tanyalah pada diri anda
sendiri :
Sudah cukupkah bekal yang anda miliki untuk menghadapi rimba belantara
dunia kerja ?
Sudah siapkah diri anda jika suatu saat nanti menjadi bagian dari jutaan
para pencari kerja ?
Atau jika anda sedang mencari kerja, siapkah anda jika secara mendadak hari
ini mendapatkan panggilan dari perusahaan impian anda untuk mengikuti tes kerja
esok pagi ?
Sadarkah anda, jika pendidikan yang telah anda tempuh membuat anda bak
serdadu bersenjata lengkap, namun pada akhirnya senjata itu tak pernah bisa anda
gunakan karena anda tak pernah dipersiapkan untuk perang yang sesungguhnya?
ungkapan tersebut sama halnya jika anda adalah seorang yang cukup mumpuni dalam
bidang akademis, namun tak pernah lolos tes kerja. Lantas bagaimana bisa anda
mengaplikasikan ilmu anda jika anda tidak berada pada kondisi yang membuat anda
bisa bekerja sesuai bidangnya atau bekerja di tempat impian anda? mungkin anda
bisa berwiraswasta, ya tapi maaf kita tidak akan membahas tentang itu disini.
Apakah selama ini anda telah mempersiapkan semua hal mengenai tes kerja
dengan baik ?
Apakah strategi yang anda persiapkan selama ini berjalan sesuai rencana?
Apakah anda selalu melakukan evaluasi dari setiap kegagalan yang anda alami
?
Taukah anda, kenapa perusahaan user justru memilih saingan anda daripada
diri anda ? apa yang saingan anda punya dan anda tak punya ? bukankah lebih
mudah menemukan sebuah apel dari setumpukan jeruk. Kenapa bukan anda yang
menjadi apel saat itu ?
Apapun jawaban anda, setidaknya anda mulai menyadari kekuatan dan kelemahan
yang ada pada diri anda, karena itu merupakan bekal yang paling penting untuk
anda melanjutkan membaca buku ini.
Tak bisa kita pungkiri, pendidikan masih dianggap sebagai salah satu upaya
untuk memperbaiki nasib atau kehidupan seseorang. Singkat kata, semakin tinggi tingkat
pendidikan seseorang, maka akan semakin besar kesempatan orang tersebut
memperoleh kehidupan dan pekerjaan yang layak dikemudian hari. Benarkah
anggapan semacam itu?? Benarkah orang yang berpendidikan tinggi pasti akan
memperoleh pekerjaan yang layak, bergaji besar, ruang kerja ber-AC, memiliki
mobil mewah, dsb ?? maaf kita tidak sedang membahas si G***S pegawai golongan 3A
yang mempunyai harta melebihi hasil jarahan bajak laut.
Lantas, mengapa jumlah pengangguran terdidik selalu meningkat dari tahun ke
tahun? Atau mengapa banyak sarjana menjadi pengangguran? Mungkin salah satu
jawabannya di bawah ini, tapi mungkin juga tidak pada ketiganya.
1.
Hingga detik ini,
sebagian besar masyarakat Indonesia masih memandang gelar kesarjanaan sebagai
sebuah gengsi dan kehormatan. Konon katanya, orang tua dikatakan berhasil
jika mampu menyekolahkan anak-anaknya hingga jenjang pendidikan yang paling
tinggi.
2.
Terkait dengan poin 1
di atas, maka sebagian orang pun melihat bidang pendidikan sebagai ladang
bisnis yang sangat menjanjikan. Akibatnya, banyak perguruan tinggi baru
bermunculan bak jamur di musim penghujan. Namun, sayangnya tidak sedikit perguruan
tinggi yang menomorduakan kualitas dan sangat jarang perguruan tinggi yang
bertanggung jawab terhadap lulusannya untuk bisa diserap di dunia kerja,
apalagi membantu lulusannya untuk bisa membuka lapangan kerja (wiraswasta).
3.
Tidak sedikit sarjana
yang hanya menguasai bidang keilmuannya saja tanpa didukung keterampilan lain.
Padahal, perusahaan dan dunia kerja pada umumnya lebih menyukai karyawan yang
serba bisa.
Bayangkan saja, jumlah
perguruan tinggi di Indonesia saat ini sekitar 2.900 buah (PTN dan PTS). Berapa
jumlah sarjana yang diluluskan setiap tahun oleh masing-masing perguruan tinggi
tersebut? Yang pasti jumlahnya bervariasi. Mungkin berkisar antara 600 s/d 1000.
Kita anggap saja setiap perguruan tinggi meluluskan 800 sarjana per tahun. Berarti
2.900 X 800 = 2.320.000 orang sarjana yang dihasilkan Indonesia setiap
tahunnya. Lalu berapa orang sarjana yang dibutuhkan oleh negeri ini setiap
tahun atau yang dapat diserap di dunia kerja?
Secara pasti data tersebut tidak diketahui. Tetapi, menurut beberapa sumber
yang saya peroleh, jumlah sarjana yang dibutuhkan tiap tahunnya tidak lebih
dari 100.000 sarjana atau mungkin lebih kecil dari jumlah itu. Kemudian, berapa
sarjana yang menganggur setiap tahunnya? Coba saja dihitung, 2.320.000 -
100.000 = 2.220.000 orang sarjana yang menganggur setiap tahunnya. Sungguh
jumlah yang mengerikan, bukan?
Masih teringat jelas dalam ingatan saya ketika baru diwisuda. Rasanya jerih
payah selama 4 tahun lebih (lebihnya banyak he.....), terbayar lunas dalam satu
hari, setidaknya itu menurut saya. Acara foto-foto di hari itu pun tak mungkin
absen dari daftar (meskipun tetap dengan wajah pas-pasan), ya tak mungkinlah
kita melewati hari bersejarah ini berlalu begitu saja tanpa mengabadikannya, minimal
buat dipajang di kolong tempat tidur.
Saat itu saya tidak menyadari bahwa mungkin di belahan dunia yang lain, di
waktu yang hampir bersamaan, ribuan mahasiswa lain juga memperoleh gelar
sarjana yang sama dengan saya. Dan mungkin mereka-mereka itulah yang akan
menjadi saingan saya dalam dunia kerja nantinya.
Seminggu setelah hari bersejarah itu (tidak dianjurkan membuka buku cetak
sejarah kelas 4 SD), kebahagiaan dan kebanggaan sebagai seorang sarjana masih
sangat terasa. Ya, meskipun hampir 90% apa yang pernah saya pelajari sudah terlupakan
(dulu tak bisa, sekarang lupa). Bahkan, toga yang seharusnya dikembalikan ke
kampus, masih betah menginap di rumah. Belum puas rasanya memakai toga cuma
sekali saja, yah meskipun orang rumah mulai melihat dengan pandangan aneh,
seperti melihat orang yang tidak waras. Tagihan acara makan-makan dari
teman-teman pun tidak ketinggalan, meskipun saat itu menunya cuma nasi goreng
pete ala kadarnya.
Tak terasa 2 minggu berlalu dengan cepat. Saya mulai merasa jenuh dengan
kegiatan di rumah. Dalam hati saya bertanya, ”apa yang hendak saya kerjakan
setelah selesai kuliah? Kerja? Tapi kerja dimana dan cari kerja dimana? Rasanya
saya belum siap menghadapi dunia kerja.”
Sebagaimana diketahui bersama, mendapatkan pekerjaan dan memperoleh
kehidupan yang layak telah dilindungi dan diatur di dalam undang-undang. Kalau
tidak salah bunyinya “setiap warga negara berhak mendapatkan pekerjaan yang
layak bagi kemanusiaan”. Namun sungguh seribu sayang, hal itu agaknya masih
jauh dari harapan. Besarnya jumlah angka pencari kerja tidak sebanding dengan
jumlah lowongan kerja yang
tersedia. Menurut pengalaman saya, untuk satu lowongan pekerjaan yang
ditawarkan, setidaknya harus diperebutkan minimal oleh 30 orang alias 1 : 30. Oleh
sebab itu, jika anda pasif maka hasil yang diperoleh pun akan jauh dari kata
memuaskan. Bahkan, tak jarang beberapa lowongan pekerjaan yang disediakan oleh
perusahaan besar, BUMN, CPNS dan sebagainya, mesti diperebutkan oleh ratusan
pencari kerja, bahkan mungkin ribuan. Dan nampaknya semua itu bukanlah pemandangan
yang asing bagi kita.
”apa yang tidak anda lihat, bukan berarti tidak ada.” Untuk anda yang belum
lulus, bisa anda bayangkan, berapa banyak saingan anda untuk mendapatkan satu bidang
pekerjaan ketika anda lulus nanti. Kalau anda hanya mempunyai kemampuan
biasa-biasa saja, rasanya sulit memenangi persaingan yang amat sangat ketat ini.
Untuk itu, pelajarilah setiap bagian buku ini, karena banyak tuan dan nyonya
pintar justru ”secara mengejutkan” gagal mendapatkan pekerjaan impian mereka
karena kurang persiapan ataupun karena mereka tidak tahu strateginya. Tetapi
perlu dicatat dengan huruf KAPITAL, tidak ada jaminan perjuangan anda
mendapatkan pekerjaan impian akan berjalan mulus setelah anda membaca buku ini
sampai khatam, karena pada akhirnya semuanya bergantung pada kerja keras anda
sendiri. Kesempatan mendapatkan panggilan tes kerja sangat terbatas. Untuk itu,
ketika mendapat kesempatan tersebut, jangan sampai gagal !
Menganggur memang membosankan, apalagi ditambah dengan gelar kesarjanaan,
seperti diploma, sarjana S1 atau S2, jelas akan membuat sangat terbebani.
Normalnya, jarak antara lulus/wisuda dengan mulai bekerja adalah kurang dari
satu tahun. Jika lebih dari kurun waktu tersebut, maka bisa dibayangkan seorang
penganggur terdidik akan mulai dihinggapi rasa putus asa, sehingga muncul
rendah diri atau rasa tidak percaya diri.
”sarjana kok nganggur !” kata ibu-ibu tukang gosip disebelah rumah
”sarjana kok ngojek” kata tukang ojek (eh maaf, itu iklan dari sebuah
produsen rokok)
Bila perlu, anda yang sedang mencari kerja tidak perlu mengalami trial & error (mencoba, gagal dan
mencoba lagi) seperti yang pernah saya alami dulu. Karena akan banyak uang,
waktu dan tenaga yang harus anda korbankan. Sekali lagi, kesempatan untuk
mengikuti tes panggilan kerja sangat terbatas, maka ketika anda mendapatkan
kesempatan tersebut, jangan sampai gagal !
Untuk mendapatkan pekerjaan impian, setidaknya kita harus melakukan 3 hal,
yaitu informasi, komunikasi dan koneksi. Informasi, yaitu upaya kita secara
aktif mencari informasi lowongan kerja dengan memanfaatkan banyak media.
Komunikasi, yaitu bagaimana anda bisa menyebarkan informasi bahwa anda sedang
mencari pekerjaan, sehingga jika ada lowongan, maka orang yang mengetahui bahwa
anda sedang mencari pekerjaan akan memberitahu/menghubungi anda (silaturahmi
membuka pintu rejeki). Koneksi, yaitu jika anda memiliki kenalan, saudara,
teman dan sebagainya yang bekerja di suatu perusahaan/instansi, maka seandainya
ada lowongan yang sesuai dengan kriteria pekerjaan impian anda, kemungkinan
anda akan diberitahu/dihubungi (maaf saya tidak menganjurkan anda untuk melakukan
praktik kotor, nepotisme/KKN, dsb). Dapatkanlah pekerjaan yang baik, dengan
cara yang baik (jujur), karena ketika anda tidak jujur berarti anda telah
merampas hak orang lain.*
********
Seandainya saya punya waktu delapan jam untuk menebang
pohon, akan saya habiskan enam jam untuk mengasah kampak saya. Abraham Lincoln
Ilmu pengetahuan tanpa improvisasi adalah sia-sia. Albert Einstein
Lebih baik bersiap perang daripada berharap bahwa musuh
tidak pernah datang atau menyerah. Anonim
Hanya ikan bodoh yang bisa dua kali terkena pancing
dengan umpan yang sama. Anonim
Jika anda menjumpai jalan hidup yang tidak mempunyai
hambatan, mungkin saja anda tidak menuju kemana pun. Frank A. Calrk
Anda bisa memilih sukses, semudah memilih gagal. Bisa
memilih menjadi orang baik, semudah memilih menjadi orang jahat. Bisa memilih
menjadi pendengar, semudah memilih menjadi orang yang selalu ingin didengarkan.
Bisa memilih menabung, semudah memilih menghamburkan. Bisa memilih membantu
orang lain, semudah menyakitinya. Bisa memilih berfikir positif, semudah
memilih berfikir negatif. Ralp Marstone
Jika anda selalu berfikir tentang kegagalan, maka anda
akan mendapatkannya. Milikilah pikiran positif dan kuasailah pikiran anda
dengan rasa percaya diri dan keyakinan. Inilah caranya untuk mempertegas
tindakan, cara untuk memperkaya prestasi dan cara menghidupkan pengalaman. Swami Sivanada
Anda tidak butuh sesuatu yang baru untuk sukses,
kecuali membutuhkan cara baru yang lebih baik dalam menggunakan apa yang sudah
anda miliki. Earl Nightingale
Kebanyakan orang mencari kunci kesuksesan kemana-mana,
padahal kalau dirinya tahu, kunci itu menggantung di dalam dirinya. George Washington Carver
Tidak ada komentar:
Posting Komentar