Sabtu, 07 Mei 2016

Sekilas Tentang Dunia Kerja



B
aru lulus kuliah langsung kerja ! mungkin impian semua orang ataupun harapan orang tua kepada anaknya. Tetapi sayangnya, tidak semua orang seberuntung itu. Jika saat ini anda adalah seorang jobseeker atau pencari kerja yang seringkali gagal dalam menghadapi tes kerja, janganlah berkecil hati, ”anda tidak sendirian” ribuan bahkan mungkin jutaan orang pernah mengalaminya, termasuk saya (gagal, bangga; gue banget). Berita baiknya, tidak sedikit dari mereka-mereka itu, akhirnya mendapatkan pekerjaan yang mereka cari, meskipun tidak semuanya merupakan pekerjaan impian mereka. Ya, apapun pekerjaan yang diperoleh, patut untuk kita syukuri, karena di luar sana masih banyak orang berpendidikan tanpa pekerjaan. Namun, berita buruk bagi anda yang belum mendapatkan pekerjaan atau bagi anda yang baru lulus dan sedang giat mencari kerja. Apa itu?? Tenang, jangan keburu pingsan dulu, nanti gak kelar-kelar baca buku ini. Dan bagi anda yang punya hobi jadi sukarelawan napas bantuan, maaf ini bukan saatnya, hemat oksigen anda.
Welcome to The Jungle” itulah slogan yang akan kita pakai untuk membuka acara yang sebenarnya lebih mirip arisan ibu-ibu ini. Ya, ”The Jungle” atau rimba belantara, memang istilah yang paling mendekati dan paling sering digunakan untuk menggambarkan ketatnya persaingan dalam dunia kerja. Dalam setiap bursa kerja, akan selalu ada pihak yang hanya jadi penggembira, yaitu mereka-mereka yang hanya bermodalkan semangat dan kemampuan seadanya serta selalu berharap agar kali ini keberuntungan ada di pihak mereka. Sedangkan, kelompok lain adalah kaum minoritas, yang mempersiapkan segala sesuatunya secara matang dan tak ingin mengulangi kesalahan yang sama dan mereka itulah, pihak pemenang.
Hidup dengan gelar kesarjanaan memang tidak gampang, karena mau tidak mau, suka atau tidak, kita mesti dihadapkan pada harapan-harapan besar dari orang-orang di sekitar kita. Padahal, saat ini kita tidak punya banyak pilihan.
Bacalah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini dan tanyalah pada diri anda sendiri :
Sudah cukupkah bekal yang anda miliki untuk menghadapi rimba belantara dunia kerja ?
Sudah siapkah diri anda jika suatu saat nanti menjadi bagian dari jutaan para pencari kerja ?
Atau jika anda sedang mencari kerja, siapkah anda jika secara mendadak hari ini mendapatkan panggilan dari perusahaan impian anda untuk mengikuti tes kerja esok pagi ?
Sadarkah anda, jika pendidikan yang telah anda tempuh membuat anda bak serdadu bersenjata lengkap, namun pada akhirnya senjata itu tak pernah bisa anda gunakan karena anda tak pernah dipersiapkan untuk perang yang sesungguhnya? ungkapan tersebut sama halnya jika anda adalah seorang yang cukup mumpuni dalam bidang akademis, namun tak pernah lolos tes kerja. Lantas bagaimana bisa anda mengaplikasikan ilmu anda jika anda tidak berada pada kondisi yang membuat anda bisa bekerja sesuai bidangnya atau bekerja di tempat impian anda? mungkin anda bisa berwiraswasta, ya tapi maaf kita tidak akan membahas tentang itu disini.
Apakah selama ini anda telah mempersiapkan semua hal mengenai tes kerja dengan baik ?
Apakah strategi yang anda persiapkan selama ini berjalan sesuai rencana?
Apakah anda selalu melakukan evaluasi dari setiap kegagalan yang anda alami ?
Taukah anda, kenapa perusahaan user justru memilih saingan anda daripada diri anda ? apa yang saingan anda punya dan anda tak punya ? bukankah lebih mudah menemukan sebuah apel dari setumpukan jeruk. Kenapa bukan anda yang menjadi apel saat itu ?
Apapun jawaban anda, setidaknya anda mulai menyadari kekuatan dan kelemahan yang ada pada diri anda, karena itu merupakan bekal yang paling penting untuk anda melanjutkan membaca buku ini.
Tak bisa kita pungkiri, pendidikan masih dianggap sebagai salah satu upaya untuk memperbaiki nasib atau kehidupan seseorang.  Singkat kata, semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, maka akan semakin besar kesempatan orang tersebut memperoleh kehidupan dan pekerjaan yang layak dikemudian hari. Benarkah anggapan semacam itu?? Benarkah orang yang berpendidikan tinggi pasti akan memperoleh pekerjaan yang layak, bergaji besar, ruang kerja ber-AC, memiliki mobil mewah, dsb ?? maaf kita tidak sedang membahas si G***S pegawai golongan 3A yang mempunyai harta melebihi hasil jarahan bajak laut.
Lantas, mengapa jumlah pengangguran terdidik selalu meningkat dari tahun ke tahun? Atau mengapa banyak sarjana menjadi pengangguran? Mungkin salah satu jawabannya di bawah ini, tapi mungkin juga tidak  pada ketiganya.
1.      Hingga detik ini, sebagian besar masyarakat Indonesia masih memandang gelar kesarjanaan sebagai sebuah gengsi dan kehormatan. Konon katanya, orang tua dikatakan berhasil jika mampu menyekolahkan anak-anaknya hingga jenjang pendidikan yang paling tinggi.
2.      Terkait dengan poin 1 di atas, maka sebagian orang pun melihat bidang pendidikan sebagai ladang bisnis yang sangat menjanjikan. Akibatnya, banyak perguruan tinggi baru bermunculan bak jamur di musim penghujan. Namun, sayangnya tidak sedikit perguruan tinggi yang menomorduakan kuali­tas dan sangat jarang perguruan tinggi yang bertanggung jawab terhadap lulusannya untuk bisa diserap di dunia kerja, apalagi membantu lulusannya untuk bisa membuka lapan­gan kerja (wiraswasta).
3.      Tidak sedikit sarjana yang hanya menguasai bidang keilmuannya saja tanpa didukung keterampilan lain. Padahal, perusahaan dan dunia kerja pada umumnya lebih menyukai karyawan yang serba bisa.
Bayangkan saja, jumlah perguruan tinggi di Indonesia saat ini sekitar 2.900 buah (PTN dan PTS). Berapa jumlah sarjana yang diluluskan setiap tahun oleh masing-masing perguruan tinggi tersebut? Yang pasti jumlahnya bervariasi. Mungkin berkisar antara 600 s/d 1000. Kita anggap saja setiap perguruan tinggi meluluskan 800 sarjana per tahun. Berarti 2.900 X 800 = 2.320.000 orang sarjana yang dihasilkan Indonesia setiap tahunnya. Lalu berapa orang sarjana yang dibutuhkan oleh negeri ini setiap tahun atau yang dapat diserap di dunia kerja?
Secara pasti data tersebut tidak diketahui. Tetapi, menurut beberapa sumber yang saya peroleh, jumlah sarjana yang dibutuhkan tiap tahunnya tidak lebih dari 100.000 sarjana atau mungkin lebih kecil dari jumlah itu. Kemudian, berapa sarjana yang menganggur setiap tahunnya? Coba saja dihitung, 2.320.000 - 100.000 = 2.220.000 orang sarjana yang menganggur setiap tahunnya. Sungguh jumlah yang mengerikan, bukan?
Masih teringat jelas dalam ingatan saya ketika baru diwisuda. Rasanya jerih payah selama 4 tahun lebih (lebihnya banyak he.....), terbayar lunas dalam satu hari, setidaknya itu menurut saya. Acara foto-foto di hari itu pun tak mungkin absen dari daftar (meskipun tetap dengan wajah pas-pasan), ya tak mungkinlah kita melewati hari bersejarah ini berlalu begitu saja tanpa mengabadikannya, minimal buat dipajang di kolong tempat tidur.
Saat itu saya tidak menyadari bahwa mungkin di belahan dunia yang lain, di waktu yang hampir bersamaan, ribuan mahasiswa lain juga memperoleh gelar sarjana yang sama dengan saya. Dan mungkin mereka-mereka itulah yang akan menjadi saingan saya dalam dunia kerja nantinya.
Seminggu setelah hari bersejarah itu (tidak dianjurkan membuka buku cetak sejarah kelas 4 SD), kebahagiaan dan kebanggaan sebagai seorang sarjana masih sangat terasa. Ya, meskipun hampir 90% apa yang pernah saya pelajari sudah terlupakan (dulu tak bisa, sekarang lupa). Bahkan, toga yang seharusnya dikembalikan ke kampus, masih betah menginap di rumah. Belum puas rasanya memakai toga cuma sekali saja, yah meskipun orang rumah mulai melihat dengan pandangan aneh, seperti melihat orang yang tidak waras. Tagihan acara makan-makan dari teman-teman pun tidak ketinggalan, meskipun saat itu menunya cuma nasi goreng pete ala kadarnya.
Tak terasa 2 minggu berlalu dengan cepat. Saya mulai merasa jenuh dengan kegiatan di rumah. Dalam hati saya bertanya, ”apa yang hendak saya kerjakan setelah selesai kuliah? Kerja? Tapi kerja dimana dan cari kerja dimana? Rasanya saya belum siap menghadapi dunia kerja.”
Sebagaimana diketahui bersama, mendapatkan pekerjaan dan memperoleh kehidupan yang layak telah dilindungi dan diatur di dalam undang-undang. Kalau tidak salah bunyinya “setiap warga negara berhak mendapatkan pekerjaan yang layak bagi kemanusiaan”. Namun sungguh seribu sayang, hal itu agaknya masih jauh dari harapan. Besarnya jumlah angka pencari kerja tidak sebanding dengan jumlah lowongan kerja yang tersedia. Menurut pengalaman saya, untuk satu lowongan pekerjaan yang ditawarkan, setidaknya harus diperebutkan minimal oleh 30 orang alias 1 : 30. Oleh sebab itu, jika anda pasif maka hasil yang diperoleh pun akan jauh dari kata memuaskan. Bahkan, tak jarang beberapa lowongan pekerjaan yang disediakan oleh perusahaan besar, BUMN, CPNS dan sebagainya, mesti diperebutkan oleh ratusan pencari kerja, bahkan mungkin ribuan. Dan nampaknya semua itu bukanlah pemandangan yang asing bagi kita.
”apa yang tidak anda lihat, bukan berarti tidak ada.” Untuk anda yang belum lulus, bisa anda bayangkan, berapa banyak saingan anda untuk mendapatkan satu bidang pekerjaan ketika anda lulus nanti. Kalau anda hanya mempunyai kemampuan biasa-biasa saja, rasanya sulit memenangi persaingan yang amat sangat ketat ini. Untuk itu, pelajarilah setiap bagian buku ini, karena banyak tuan dan nyonya pintar justru ”secara mengejutkan” gagal mendapatkan pekerjaan impian mereka karena kurang persiapan ataupun karena mereka tidak tahu strateginya. Tetapi perlu dicatat dengan huruf KAPITAL, tidak ada jaminan perjuangan anda mendapatkan pekerjaan impian akan berjalan mulus setelah anda membaca buku ini sampai khatam, karena pada akhirnya semuanya bergantung pada kerja keras anda sendiri. Kesempatan mendapatkan panggilan tes kerja sangat terbatas. Untuk itu, ketika mendapat kesempatan tersebut, jangan sampai gagal !
Menganggur memang membosankan, apalagi ditambah dengan gelar kesarjanaan, seperti diploma, sarjana S1 atau S2, jelas akan membuat sangat terbebani. Normalnya, jarak antara lulus/wisuda dengan mulai bekerja adalah kurang dari satu tahun. Jika lebih dari kurun waktu tersebut, maka bisa dibayangkan seorang penganggur terdidik akan mulai dihinggapi rasa putus asa, sehingga muncul rendah diri atau rasa tidak percaya diri.
”sarjana kok nganggur !” kata ibu-ibu tukang gosip disebelah rumah
”sarjana kok ngojek” kata tukang ojek (eh maaf, itu iklan dari sebuah produsen rokok)
Bila perlu, anda yang sedang mencari kerja tidak perlu mengalami trial & error (mencoba, gagal dan mencoba lagi) seperti yang pernah saya alami dulu. Karena akan banyak uang, waktu dan tenaga yang harus anda korbankan. Sekali lagi, kesempatan untuk mengikuti tes panggilan kerja sangat terbatas, maka ketika anda mendapatkan kesempatan tersebut, jangan sampai gagal !
Untuk mendapatkan pekerjaan impian, setidaknya kita harus melakukan 3 hal, yaitu informasi, komunikasi dan koneksi. Informasi, yaitu upaya kita secara aktif mencari informasi lowongan kerja dengan memanfaatkan banyak media. Komunikasi, yaitu bagaimana anda bisa menyebarkan informasi bahwa anda sedang mencari pekerjaan, sehingga jika ada lowongan, maka orang yang mengetahui bahwa anda sedang mencari pekerjaan akan memberitahu/menghubungi anda (silaturahmi membuka pintu rejeki). Koneksi, yaitu jika anda memiliki kenalan, saudara, teman dan sebagainya yang bekerja di suatu perusahaan/instansi, maka seandainya ada lowongan yang sesuai dengan kriteria pekerjaan impian anda, kemungkinan anda akan diberitahu/dihubungi (maaf saya tidak menganjurkan anda untuk melakukan praktik kotor, nepotisme/KKN, dsb). Dapatkanlah pekerjaan yang baik, dengan cara yang baik (jujur), karena ketika anda tidak jujur berarti anda telah merampas hak orang lain.*
********
Seandainya saya punya waktu delapan jam untuk menebang pohon, akan saya habiskan enam jam untuk mengasah kampak saya. Abraham Lincoln
Ilmu pengetahuan tanpa improvisasi adalah sia-sia. Albert Einstein
Lebih baik bersiap perang daripada berharap bahwa musuh tidak pernah datang atau menyerah. Anonim
Hanya ikan bodoh yang bisa dua kali terkena pancing dengan umpan yang sama. Anonim
Jika anda menjumpai jalan hidup yang tidak mempunyai hambatan, mungkin saja anda tidak menuju kemana pun. Frank A. Calrk
Anda bisa memilih sukses, semudah memilih gagal. Bisa memilih menjadi orang baik, semudah memilih menjadi orang jahat. Bisa memilih menjadi pendengar, semudah memilih menjadi orang yang selalu ingin didengarkan. Bisa memilih menabung, semudah memilih menghamburkan. Bisa memilih membantu orang lain, semudah menyakitinya. Bisa memilih berfikir positif, semudah memilih berfikir negatif. Ralp Marstone
Jika anda selalu berfikir tentang kegagalan, maka anda akan mendapatkannya. Milikilah pikiran positif dan kuasailah pikiran anda dengan rasa percaya diri dan keyakinan. Inilah caranya untuk mempertegas tindakan, cara untuk memperkaya prestasi dan cara menghidupkan pengalaman. Swami Sivanada
Anda tidak butuh sesuatu yang baru untuk sukses, kecuali membutuhkan cara baru yang lebih baik dalam menggunakan apa yang sudah anda miliki. Earl Nightingale
Kebanyakan orang mencari kunci kesuksesan kemana-mana, padahal kalau dirinya tahu, kunci itu menggantung di dalam dirinya. George Washington Carver

Tidak ada komentar:

Posting Komentar