Alasan Penggunaan Tes Psikotes
dalam Proses Rekrutmen Pegawai Baru
|
D
|
alam kurun waktu 2 dasawarsa terakhir, penggunaan
asessment psikologis dalam proses seleksi calon karyawan semakin meningkat.
Beberapa alasan perusahaan menggunakan assesment psikologis, diantaranya, perusahaan
ingin mengurangi resiko terjadinya salah rekrut karyawan dan dampak resiko
kerugian finansial akibat salah rekrut tersebut. Hal ini dikarenakan biaya
yang harus dikeluarkan perusahaan akibat salah rekrut relatif besar, diantaranya
biaya iklan, assesment psikologis, training, gaji, dll.
Alasan berikutnya, perusahaan ingin mendapatkan
pegawai yang tepat, yaitu yang sesuai, baik secara kemampuan teknis maupun
kepribadian dengan karakteristik pekerjaan yang akan dia tangani. Ada
pekerjaan-pekerjaan tertentu yang tidak dapat dikerjakan oleh orang-orang yang
memiliki karakteristik kepribadian tertentu. Misalnya, perusahaan periklanan
membutuhkan pegawai yang kreatif dan dapat bekerja sama dalam tim dan bukan
orang yang individualis dan cenderung follower.
Dengan menempatkan pegawai pada posisi sesuai bidang keahliannya (the right man on the the right place),
maka diharapkan akan meningkatkan kinerja pegawai itu sendiri maupun kinerja
perusahaan. Selain itu, perusahaan ingin mendapatkan pegawai yang memiliki
karakter sesuai dengan budaya perusahaan.
Seperti apa assessment psikologis itu?
Ada beragam bentuk assessment psikologis, diantaranya personality assessment berupa profil
kepribadian, decision making test,
tes intelegensi kognitif atau critical
thinking, tes kreativitas, dll. Tes kejujuran (integritas), termasuk
dalam personality assessment dan banyak
dibutuhkan oleh perusahaan. Disamping itu, untuk pegawai-pegawai yang
akan mengisi level managerial, perlu dilakukan assessment yang berkaitan dengan
kepemimpinan, delegasi, develop other,
strategic thinking, mengatasi
konflik, dan sebagainya.
Jadi, apa yang harus dilakukan perusahaan untuk
mendapatkan hasil maksimal dari assessment psikologis ini? Tentunya perusahaan
harus memiliki kriteria dan standar yang jelas mengenai apa saja yang akan
dinilai dari calon pegawai tersebut dan yang memang sesuai dengan kebutuhan
perusahaan. Misalnya, untuk level manajerial di posisi pemasaran,
tentunya dibutuhkan orang-orang yang mampu melihat peluang pasar, memiliki
kesadaran bisnis, disamping juga mampu memimpin dan mengelola bawahan dengan
baik. Di sisi lain, juga memiliki kriteria yang sesuai dengan budaya
perusahaan.
Bagaimana dengan Psikotest ?
Istilah psikotes atau psychological testing sering digambarkan sebagai aktivitas dalam
proses seleksi yang menggunakan pendekatan psikologis. Padahal psikotes itu sendiri
hanyalah salah satu bagian dari proses yang disebut assessment psikologis atau
pemeriksaan psikologis. Secara singkat, psikotes digunakan untuk “memilih orang
terbaik dari sekian banyak calon, sesuai kriteria jabatan maupun tugas yang
harus dilakukan”.
Dengan demikian, kalau anda gagal dalam psikotes,
bukan berarti anda adalah orang bodoh atau orang yang tidak pantas mendapat
pekerjaan. Hanya saja, dalam konteks pekerjaan tertentu yang anda lamar, anda
memang bukan orang yang tepat untuk pekerjaan itu.
Salah satu cara lembaga atau perusahaan untuk
menguji calon karyawannya adalah dengan mengajukan sejumlah tes psikologi. Test
ini sangat menentukan masa depan calon karyawan dan secara teoritis untuk
mengetahui potensi calon pegawai. Pada umumnya model psikotes ini ”relatif
tidak berubah” karena memang dibuat secara standar tidak hanya nasional, tetapi
juga internasional.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar